Selasa, 26 Januari 2010

Cerpen: Ngamen

Cerpen: Ngamen
Oleh: Andin Adyaksantoro
andinadyaksantoro@ymail.com
http://pelangipelangiku.blogspot.com/


Aku duduk termenung, memikirkan suratmu yang baru datang di kamarku, yang disampaikan oleh pak Pos, siang tadi. Setelah kubaca berulang kali, baru kumengerti, bahwa dirimu ingin meninggalkan diriku sendirian di sini, di tanah rantau yang masih asing bagiku.
Aku yang menunggumu sejak lama, hanya bisa terduduk lesu memandang surat mu, yang kemudian kulipat dengan perlahan dan rapi, seperti semula. Aku tak mengerti dengan jalan pikiranmu yang saat ini amat janggal, aku datang, malah kau pergi dariku, entah dimana kini dirimu berada.
Aku datang ke tempatmu, hanya ingin menengokmu, setelah sekian lama aku menanti dirimu untuk kembali ke kampung halamanku, karena kau sebagai sahabatku, tenaga dan pikiranmu amat kuperlukan, untuk memecahkan permasalahan di hatiku yang lama memendam rasa rindu padamu.
Kini, usahaku sia-sia belaka, setelah aku bersusah payah mencarimu, setelah ketemu, malah kau pergi dariku. Apa yang harus kuperbuat sekarang?
Pulang ke kampung halaman kembali tanpamu? aku malu, karena orang kampung memasrahkan padaku, persoalan kembalinya dirimu. Namun, kalau aku tak segera kembali ke kampung halaman, uang sakuku, mulai menipis. Aku harus bagaimana?
Aku mulai berpikir serius. Aku harus mencari pekerjaan di kota ini, bagaimana pun adanya. Disamping mencari pekerjaan, diriku juga akan nekad mencarimu di kota ini, siapa tahu, dirimu masih berada di kota ini, sesuai dengan alamat posmu yang tertera tanda kota ini. "Hmm..., aku harus mencarimu. Bagaimana pun adanya diriku kini..., aku harus mendapatkan dirimu,"gumamku dalam hati.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, setelah aku pamit pada ibu kostku yang baru seminggu kutempati, aku bergegas pergi ke arah kota, untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanku, karena aku lulusan SMA, jadi aku tak berharap terlalu banyak dengan mata pekerjaan yang kan kudapatkan nanti. Yang penting dapat mengisi perut dan mengisi hari-hariku yang terasa sepi di kota ini. Lama berjalan, dari satu tempat ke tempat yang lain, badan mulai terasa capek dan letih, perut mulai keroncongan, tanda suara musik perut mulai bernyanyi merdu, tanda diriku lapar mulai merasuki kegelisahanku, sedangkan di sisi lain, uangku hanya tinggal untuk beberapa hari bertahan. Aku harus segera mendapatkan pekerjaan. Tekadku sudah bulat. "Harus dapat pekerjaan, harus...!" teriakku dalam hati di tengah kecemasanku untuk tetap bertahan hidup. Aku harus mempunyai semangat untuk bertahan, agar aku tetap kuat dengan tekadku mencari dirimu di kota ini. Kaulah gadis yang kuidamkan di hati ini.
Di tengah jalan, aku berpapasan dengan seorang nenek yang hendak menyeberang jalan, namun lalu lintas terlihat masih ramai dengan arus kendaraan yang hilir mudik menutup sisi-sisi jalan. Tampaknya, si nenek kerepotan untuk menyeberang. Segera aku bergegas menghampirinya, lalu kutanya "Nenek mau menyebarang ke seberang jalan di sana itu ya Nek?", tanyaku padanya. "Betul, nak. Dapatkah anak membantu nenek menyeberang jalan ini. Nenek takut, nak....", aku bergegas menganggukkan kepala. Lalu dengan sigap, aku seberangkan nenek tersebut ke seberang, setelah banyak memberi tanda pada arus kendaraan yang saling berlomba untuk saling mendahului, bahkan ada yang tidak mau mengalah. Aku biarkan saja, yang penting aku dan si nenek selamat sampai ke seberang. Akhirnya, sampai juga di seberang jalan, dan si nenek mengucapkan terima kasih padaku. "Terima kasih ya nak, semoga Tuhan membalas kebaikan si anak,"kata si Nenek dengan tersenyum, lalu segera berbalik sambil terhuyung-huyung, karena saking tuanya. Aku hanya tersenyum dan segera berlari ke arah lain, untuk segera mencari pekerjaan.
Di kota ini, banyak pengamen jalanan. Kebetulan, aku bisa sedikit bermain alat musik gitar, maka dengan antusias, kudekati anak jalanan yang membawa sebuah gitar, dan segera kuperkenalkan diriku padanya, si pemilik gitar yang ternyata bernama Anto.
Lama berbincang-bincang, akhirnya disepakati, aku bisa meminjam gitarnya untuk mencari nafkah sementara waktu. Akhirnya, dengan rasa percaya diri, aku pun ngamen di jalanan, sedangkan hasil ngamennya kubagi dua dengan si Anto. Dia senang sekali, karena hanya duduk-duduk di emperan toko, dia mendapatkan hasil separo dariku.
Hari itu, aku pulang dengan membawa uang yang lumayan banyak untuk bisa bertahan dua atau tiga hari lagi, karena didapat dari hasil kebaikan Anto, si pengamen jalanan.

Waduh..., udah capek nich..., dilanjut lain hari lagi ah.. (bersambung....)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar