Selasa, 02 Februari 2010

Puisi: Nyaris tak terdengar

Puisi: Nyaris tak terdengar
Oleh: Andin Adyaksantoro
andinadyaksantoro@ymail.com
http://pelangipelangiku.blogspot.com/
Palangka Raya, 02 Pebruari 2010


Terasa kelu lidahku saat ku ingin mengatakannya padamu
terasa kaku ....tubuhku saat ku ingin meraih lenganmu
terasa jenuh ...pikiranku ...saat ku ingin merindu padamu...
entah kenapa ...hati ini ...tak bisa kuajak bercengkerama....

Malam semakin larut dalam temaramnya sang rembulan
tetes embun turun membasahi rerumputan kering yang terpana
menerpa keheningan malam yang semakin memukau hati
menyusup relung-relung hati yang merindukan dirimu

Senandung dewi malam telah menepuk bahuku yang terasa letih
resah dan gelisah menemani hari-hariku yang sepi melenakan ku
membuat diriku semakin jauh dari hangatnya sinar mentari
yang mencari asa ku yang semakin pudar dalam redupnya lilin kecil

Aku merasa diriku semakin memudar dalam langkah sesalmu
semakin menghilang dari kabut pandangan redup mu
yang menjauh dan ....makin menjauh...
akhirnya hilang...lenyap ...ditelan sang awan yang memutih kapas...

Rinai sang hujan turun rintik dalam senja yang makin temaram
mendinginkan suasana alam yang semakin menepi
merayap dalam kebekuan yang merintih sendu
membuat diriku terlelap dalam bayang mimpi yang tak bertepi

Kerinduan ini semakin mengiris relung hatiku
yang kucoba untuk tetap tegar menatap sang Purnama
namun...sang bintang berusaha menutupinya
dengan kerlap kerlip sinarnya yang kemilau

Apakah rasa ini ...juga ada pada dirimu
yang kunanti dalam pandangan yang makin menjauh
yang samar kuterbangun karena bisik lembutmu
bisik merdu yang nyaris tak terdengar lagi di relung hatiku...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar