Sabtu, 31 Oktober 2009

Tarzan mencari Jane (2)

Oleh : Andin Adyaksantoro

Tarzan segera tersadar dari lamunannya. Dia lalu bergegas turun dari dahan pohon yang tinggi dan besar. Dia turun melalui akar pohon yang menjulang tinggi hingga ke bawah. Di bawah, sudah menunggu macan kumbang yang langsung memperlihatkan taring dan giginya yang tajam. Tarzan hanya tersenyum saja, lalu membelai lembut kepala si Macan kumbang. Setelah itu, dia membangunkan simpanse dan si monyet, yang tertidur lelap, di terangi oleh sinar rembulan yang masih tersenyum padanya. Lalu, mereka bertiga, yaitu Tarzan, Simpanse dan Monyet bergerak cepat, melalui semak belukar, menembus kegelapan malam, sambil hidungnya mengendus-endus, menciumi rasa yang bertebaran di udara. Ini juga ditiru oleh si Simpanse dan si Monyet. Entah kenapa, Simpanse malah berbelok ke kiri, si Monyet belak ke arah kanan, sedangkan si Tarzan maju terus ke depan, sendirian. Ternyata, simpanse membau bau harum pisang yang sudah kuning masak, yang lalu diambil dan dimakannya. sedangkan si monyet, membaui bau harum buah apel yang sudah masak, lalu diambil dan dimakannya dengan lahap. sedangkan si Tarzan, tetap konsen dengan pencahariannya. Dia tetap merangsek maju dengan hati-hati, takut menimbulkan suara berisik. Ternyata, Tarzan menemukan sandal kulit Jane sebelah saja di antara rerumputan hutan, yang sudah bercampur lumpur dan tanah, karena terkena hujan di malam minggu kemarin. Tarzan lalu membaui sandal tersebut, menciumi, dan mengamatinya dengan dalam-dalam, tak terasa, dia melamun, terpekur, mengingat Jane yang entah kemana. Dia takut, Jane terkena apa-apa, atau ada masalah pada dirinya. Dia tidak rela bila Jane mengalami hal-hal yang tidak diinginkannya. Dia lalu mengambil sandal kulit milik Jane yang ditemukannya, hanya sebelah saja, lalu dikantunginya, setelah itu, dia beranjak pergi, kembali ke rumahnya di pohon yang tinggi besar. Jalannya Tarzan masih tetap lincah dan terburu-buru, seperti mengejar bayangan yang tak kan pernah teraih. Di hatinya, kerinduan Tarzan untuk bertemu Jane semakin bergelora dan menggebu. Sudah satu minggu, Jane pergi tanpa pesan pada penghuni hutan lainnya, termasuk si Kancil yang selalu menjaga Jane. Kancil telah ditegur dan dimarahinya, lain kali jangan diulangi lagi, dan Kancil mengerti, meski dia menggerutu juga, dimarahi, dimarahi lagi, bosen ah.

bersambung....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar