Selasa, 20 Oktober 2009

Puisi tentang Awan...

Oleh : Andin Adyaksantoro


Beriring..., berarak.., putih bagaikan kapas...., bagaikan angsa putih yang terbang mencari cinta....
Cinta akan kehidupannya. ..., kelangsungan generasinya. ..
mencari peluang dan tantangan yang seakan tak pernah habisnya....

Angin terus bertiup..., menghalau dan menghadangnya. ...
namun..., awan terus berjalan..., kadang meliuik...., kadang menerjang... .
meski sang surya....membantuny a...., namun sang dewi malam...tak kompromi.... .
awan khan datang di siang hari...., malam hari...lenyap. ..tak berbekas....

Awan...., kau khan tetap ada..., meski hujan dan halilintar menerpamu...
kau tetap berusaha bangkit dan nampak dalam pelupuk mata seorang gadis manis...
yang menantikan kehadiran sang pemuda ....pujaan hatinya.....
yang hingga kini...tak kunjung datang...tuk melamarnya.. ...



Harapan.....

Matanya berkaca-kaca, kelopak matanya membening... dan...tes. ...air matanya menetes...
dikit demi sedikit...., lama-lama tak kuasa jua dia membendungnya. ..., pertahanannya jebol ....dia meratap...merintih. ...dia... menangis. ..tersedu- sedu...dia sedih.....
hatinya hancur..., terpukul.... , merasa dikecewakan. ....

Suratnya telah datang.....
surat yang diharapkannya dapat menjadi pelipur laranya di kala duka...dan di kala senang.
kini dia malah mengharap surat itu tidak datang....
surat yang membuatnya sedih dan tak percaya diri lagi.....runtuh sudah harapannya.. ..

kekasihnya telah memupus harapannya untuk bangkit dari keterpurukannya lagi....
dia dulu pernah terpuruk karena bercinta dan merindukan kekasihnya yang lama...
namun juga seperti ini lagi .....
gagal lagi...gagal lagi...dalam bercinta.... yang telah mulai tumbuh bersemi..... bersamanya. .

Kini ...dia menyadari...
bahwa jodoh itu adalah sebuah misteri...yang tidak bisa diduga dan direncanakan. ...
meski sudah memupuk dengan semangat baja dan tak pernah dilepaskan.. ..
namun ...kenyataan berbicara lain...., dia merasakan kegagalannya yang kedua....

Semakin teriris hatinya....
Surat itu pun dilipatnya kembali dan disimpannya dengan hati-hati dalam buku birunya...
mungkinkah dia kembali lagi.....
dan akan meminta maaf padaku...dan melupakan suratnya lagi....

sebuah mataforgana kehidupan telah dia alami....
sebuah kenyataan pahit lagi yang dia alami....
namun ...dia tidak boleh putus harapan....
hari esok kehidupan terus berjalan...dan dia pun harus tetap hidup dan berjalan....
menyururi liku-liku kehidupannya kembali..., dia harus tetap eksis dan bangkit kembali...

Harapan untuk mendapatkan yang terbaik tetap dipercayanya. ...khan datang...
harapan untuk mendapatkan seorang pendamping tetap dia percaya....
harapan untuk kehidupan yang lebih baik..., tetap dia pegang...
harapan dan harapan ....itulah awal dari suatu kebangkitan. ..harapan yang terbaik...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar