Senin, 23 November 2009

Cerpen : Ya....nasib....

Cerpen:
Oleh: Andin Adyaksantoro
andinadyaksantoro@ymail.com
http://pelangipelangiku.blogspot.com/


Aku duduk disini, di halaman sekolahan, seusai pulang sekolah, menunggu sang idolaku keluar dari kelas di Sekolah SMA N I Teladan Yogyakarta. Aku terpesona dengan gadis pujaanku, yang sering kulirik saat dia parkir sepeda motornya di parkiran sekolahan.

Entah kenapa, aku begitu kangen bila tidak melihatnya barang sehari pun di sekolah, bahkan saking kagumku akan kecantikannya, kadangkala aku harus menggenjot sepeda balapku pagi-pagi sekali, berangkat dari rumah untuk ke sekolahku di SMAN 1 Teladan Yogyakarta, dengan jarak tempuh sekitar 5 Km, sehingga kalau dihitung, pulang pergi memakan jarak sekitar 10 Km.

Ketika tiba di sekolahan, sepeda balapku, kuparkir di tempat parkir yang memang diperuntukkan khusus untuk parkir sepeda, yang tempatnya berbeda dan agak berjauhan sedikit dengan tempat parkir khusus sepeda motor.

Selesai memarkir sepeda balapku, yang warna hijau, aku naik ke tingkat 2 di loteng teratas, dimana sekolahku, merupakan suatu gedung yang terdiri dari 3 lantai, 2 tingkat. Lantai 1 terdiri dari beberapa ruang kelas, lantai 2 sebagai Kantor atau Ruang Tata Usaha, dan UKS serta Ruang Koperasi dan lantai 3 terdiri dari beberapa ruang kelas. Untuk naik ke lantai 2 atau ke lantai 3, harus menaiki tangga yang terbuat dari besi baja, yang suaranya agak berisik bila terkena sepatuku meskipun sepatu kets.

Biasanya aku naik tangga tersebut dengan berlari-lari kecil, lebih energik, daripada aku naik ke loteng tingkat 3 dengan berjalan pelan-pelan, kayak orang tua saja. Aku memang menyukai sikap yang energik dan lincah.

Setelah menaruh tas di bangku terdepan sebelah kanan, dan kulihat belum ada satu pun teman kelasku yang hadir, aku duduk terlebih dahulu, melepaskan lelah dan melap dengan sapu tanganku, keringatku yang berseliweran, menetes tak henti-hentinya, karena ‘nggenjot’ sepeda balapku dengan kencang dan ditambah lari-lari kecil naik ke atas loteng, tingkat 2, lantai 3.

Setelah kurasa agak segar, dan keringat sudah mulai kering, aku segera bergegas turun ke lantai 1 untuk melihat sang idolaku, gadis pujaanku datang mengendarai sepeda motornya. Sesampainya di bawah, pak Timin, tukang kebun sekolahan, habis menyapu halaman, berjalan dengan santainya, sambil membawa sapu lidinya, dan menengokku sebentar, aku melihatnya dan segera mengangguk tanda hormat padanya, “mari pak, pagi pak Timin…”. Dia hanya mengangguk senang sambil terus berjalan ke rumahnya, di belakang sekolahan. Ya, siapa pun orangnya, kalau lebih tua dariku, aku biasanya mengangguk sebagai tanda menghormatinya.

Ini merupakan bentuk sopan santun pergaulan dengan orang yang lebih tua. Budaya jawa masih kental pada diriku, karena orang tuaku amat menghormati kebudayaan jawa, khususnya Solo dan Ngayogyokarto Hadiningrat.

Di rumahku, terdapat sepengangkat alat gamelan jawa, ada slendro dan ada pelog. Dalam seminggu, kami sekeluarga latihan nggamel atau karawitan sebanyak 2 kali, di sore hari, dilatih oleh Bapak Sis..(Siswanto ?) dari Konri Yogyakarta. Beliau amat sabar dan telaten dalam memberikan pelajaran karawitan.

Lain hari lagi, aku juga belajar tari klasik gaya Ngayogyokarto Hadiningrat, Tari Klono Rejo, dilatih oleh Romo Probo, dengan gaya Gagahan, sedangkan adikku, nari gaya Alusan. Kadang kala narinya digabung, iramanya sama, hanya cara narinya yang berbeda, aku nari gagahan, sedangkan adikku yang cowok, nari alusan.

Saat menari itu, hatiku amat bangga, karena bisa menari Jawa Klasik gaya Yogyakarta dengan diiringi suara cassette tape recorder.

Pernah suatu ketika, aku diminta nari oleh bapakku di kantornya, dengan pakaian lengkap Tarian Klasik Gaya Ngayogyokarto Hadiningrat, Klono Rejo. Tampak diriku ganteng, gagah dan modis serta dewasa. Aku bangga pada waktu kulihat diriku di cermin, sebelum aku menari. Saat aku menari, aku menari dengan antusias, gagah dan percaya diri. Kuhayati benar tarian tersebut, akhirnya, diakhir pertunjukan tarianku, diberi aplaus tepuk tangan yang hangat oleh teman-teman kantor bapakku yang menyaksikan aku menari. Kepercayaan diriku makin bertambah, bahwa aku bisa dan mampu menari jawa.

Di sekolah, aku juga mengambil mata pelajaran ekstra kulikuler Karawitan. Pernah, sekolahku memenangkan kejuaraan karawitan se-kotamadya Yogyakarta, dan setelah itu, kami, diajak mengiringi tarian sendratari Rama dan Sinta, yang dipentaskan di Kotamadya Semarang. Aku diajak turut serta, dengan porsi megang bagian Kempul, dalam seperangkat gamelan.

++++++

Setelah menunggu beberapa saat di halaman sekolahan SMAN I Teladan Yogyakarta, aku terpana, memandang ke jalan, di luar pagar sekolahan, ternyata gadis pujaanku sudah datang, naik sepeda motor sendirian. Aku berdegup jantungku, berdebar-debar rasanya. Kutenangkan diriku, meski keringat dingin mulai keluar, walaupun udaranya sejuk dan tidak panas, karena pagi hari, namun perasaanku sudah tidak karuan lagi.

Lewatlah sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh pujaan hatiku, sang idolaku yang cantik dengan senyum manisnya, di depanku, aku malu untuk tersenyum padanya. Aku gugup, aku hanya bisa memandangnya saja, dan dia pun juga memandangku, kami pun beradu pandang. Dia tersenyum, akhirnya aku pun memaksakan diri untuk tersenyum pula padanya. Hatiku terasa …serrr…, lega…, plong…. Kuikuti kemana arah sepeda motor tersebut berhenti. Kuamati dia turun dari sepeda motornya, dengan seragam pakaiannya yang putih dan abu-abu, cantik dan menarik, mempesona dalam pandanganku, senyumnya amat manis dan menggairahkan semangatku untuk selalu bisa memandangnya.

Dia berpakaian amat modis, seperti pakaianku, hanya dia wanita aku pria, jadi berbeda potongannya atau modelnya, meski warnanya sama. Dia menolehku, tersenyum lagi. Aku juga tersenyum. Tak ada keberanian diriku untuk memanggil namanya, meski aku dan dia sudah duduk di kelas 3, aku duduk di bidang IPS, sedangkan dia kelas 3 Bidang IPA, kelas yang terakhir, kelas yang paling dewasa, mestinya sudah berani untuk saling berbicara, atau bertegur sapa, namun, aku sebagai lelaki, ternyata tidak ada keberanian untuk memulainya. Mungkin, aku takut ditolak atau takut dibilangin yang gak enak olehnya, apabila aku mencoba mengutarakan maksud baikku padanya.

Saat mataku masih memandangnya dengan penuh perhatian, dengan perasaan senang, gembira, tiba-tiba dia dicolek oleh seorang cowok, teman IPAnya, lalu mereka pun saling tersenyum, berbicara dan saling bergendangan tangan. Aku jadi kecewa dan patah semangat.

Ternyata, setelah beberapa hari kemudian, baru aku tahu, mereka telah berpacaran, saling tertarik, dan saling berboncengan bila pulang dan pergi ke sekolah, berlainan dengan diriku, yang hanya bisa gigit jari saja, bila bertemu dengan mereka di sekolahan atau berpapasan di jalan dengan mereka, aku naik sepeda balapku, mereka berboncengan dengan sepeda motornya.

Kejadian ini amat kusesali, mengapa aku tak ada keberanian untuk memulai, memanggilnya, atau berkunjung ke rumahnya. Mungkin dia pun ada perasaan yang sama denganku, yaitu suka denganku, aku GR barangkali, mungkin, tapi yang jelas, setelah itu, aku tidak lagi antusias mengayuh sepedaku untuk cepat-cepat sampai di sekolahan, karena aku tak ada lagi gairah memperhatikan dirinya lagi, karena dia sudah ada yang punya, dan sejak itu, tak ada lagi yang istimewa di sekolahku, karena yang istimewa telah terbang bersama sang pacarnya yang lebih ganteng, lebih berani dan lebih pintar dariku. Ya....nasib....

Bagiku, ini jadi pelajaran yang amat berharga, untuk yang akan datang, bila aku suka dengan lawan jenisku, aku harus berani mengutarakan maksudku, meski harus bersaing untuk mendapatkannya, tak masalah, karena bagiku, itu merupakan tantangan yang perlu dihadapi dan dijawab....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar