Kamis, 12 November 2009

Cerpen: Dia jadi pacarku...

Cerpen:
Oleh: Andin Adyaksantoro
andinadyaksantoro@ymail.com
http://pelangipelangiku.blogspot.com/

Saat ku buka pintu rumahku, seorang gadis cantik dan manis tampak kikuk melihat aku berdiri mematung, memandangnya tanpa berkedip. Aku bertanya padanya,"siapakah mbak ini?", lalu dia menjawab,"saya sales girl mas, menawarkan dagangan sepatu dan sandal, mungkin mas berminat?". Aku hanya menggelengkan kepala, tanda tak berminat. Namun, karena yang menawarkan seorang gadis yang manis, lalu dia saya persilahkan masuk ke dalam rumah, di mana saat itu saya habis pulang dari jalan-jalan di Pasar. "Ini buatan kita pak, asli produk dalam negeri", katanya promosi, sambil memperlihatkan beberapa pasang sepatu dan sandal kulit yang memang tampaknya bagus dan kuat.Iseng-iseng kutanyakan harganya,"berapa mbak sepatu yang warna hitam ini?", dijawab olehnya,"Lima puluh ribu rupiah saja, mas". Aku terkejut. Sepatu yang bagus ini kog murah amat. Aku jadi berminat, karena murahnya, masalah kualitas tidak aku perhitungkan. "Baiklah mbak, saya pesan yang ini, yang warna hitam ini, tinggal ukurannya menyesuaikan telapak kaki saya, ya...", kataku sambil mencoba membolak-balik sepatu warna hitam pilihanku, yang memang bentuknya bagus dan tampaknya kuat. "Nomor berapa, mas?", tanyanya. "No. 42 mbak..", kataku sambil mengamati senyumnya yang menawan. "Cantik dan manis orangnya, sayang kalau jadi salesgirl sepatu, jadi pacarku pun, aku mau kog...", gumamku dalam hati. Akhirnya, sepatu warna hitam no. 42 pun disodorkan kepadaku,"ini mas, sepatunya, nomor 42, mudah-mudahan cocok dan pas dengan telapak kaki mas...", katanya sambil membuka kardus sepatu no. 42. Aku mencobanya, dan memang pas serta cocok dengan telapak kakiku. "Baiklah, yang ini saya ambil, mbak." Lalu saya keluarkan lembaran uang Rp. 50.000,- kemudian kuserahkan padanya."terima kasih, mas. mudah-mudahan ini jadi penglaris buat saya, karena dari tadi pagi, belum ada yang membelinya. Mas pembeli pertama saya...", katanya sambil senyum-senyum padaku. Aku jadi penasaran, lalu kutanyakan no. HP nya. Dia kaget, lalu bertanya,"Buat apa, mas...?", "buat aku mbak, siapa tahu kita berjodoh dan jadi pacaran...", kataku iseng, takut ditolak. Akhirnya, dia pun memberi no. hp nya padaku, lalu kucatat di hp ku yang baru kubeli kemarin siang. Selanjutnya, dia pun pamit sambil mengucapkan terima kasih.
Beberapa hari kemudian, aku iseng-iseng menelponnya, dan ternyata benar, dia yang mengangkat hp nya dan menjawab telponku. "Halo siapa ya ini...", tanyanya. Lalu kujawab,"saya mbak, yang pernah membeli sepatu hitam punya mbak dulu itu lho..", kataku sambil berdebar-debar. "Oh, mas nya tho.... apa kabarnya mas...? apa sepatunya masih ada dan masih kuat ...?", tanyanya. "masih, mbak, malah sudah sering kupakai ke kantor, sepatunya kuat dan mengkilat", jawabku bangga pada produknya. Lama berbincang-bincang, akhirnya disepakati untuk bertemu di suatu tempat yang telah ditentukan bersama.
Pada waktu yang ditentukan, dia kutunggu di Mall, dekat rumahku."Hai...mas, apa kabar. Sudah lama menunggu ya...?",tanyanya saat aku jumpa dengannya.Dia nampak lebih cantik dari pada dulu, saat menawarkan sepatunya. Dia berpakaian kaos dan celana Jeans. Nampak sportif dan gaya. Aku jadi terkesima. "Baru saja, mbak. Bagaimana hasil penjualan sepatunya..., laris ya...", tanyaku sekenanya, karena hatiku sudah berdebar-debar tak karuan, grogi. selalu grogi kalau ketemu dan berbincang-bincang dengan seorang wanita, apalagi wanita yang cantik. Wanita yang sudah tua dan nenek-nenek pun, aku kadang kala juga masih grogi.
Setelah berbincang kesana-kemari, akhirnya kuajak dia makan dan kusuruh dia memilih rumah makannya. Kebetulan, baru gajian, jadi uangku masih banyak. Entah kalau sudah tanggal tua, bisa ngutang nanti.
Akhirnya, setelah melalui hari-hari yang menegangkan, dan sekaligus hari yang terindah, aku pun menyatakan cinta ku kepadanya. Dia pun menerimanya. Klop. Aku suka, dia pun suka. Pas. Kini dia jadi pacarku.
Yach, jodoh ternyata tidak bisa diduga. Seandainya dulu dia kutolak masuk ke rumahku, mungkin aku tidak menjadi pacarnya. Ya, ini adalah kehendak Tangan-tangan Tuhan. Terima kasih Ya Allah....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar