Selasa, 24 November 2009

Cerpen: Hati yang berbunga...

Cerpen:
Oleh: Andin Adyaksantoro
andinadyaksantoro@ymail.com
http://pelangipelangiku.blogspot.com/

Saat ku Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahasiswa UGM di Jepara, ku terima suratmu, yang merindukan diriku dan minta aku agar membalas suratmu. Aku senang dan gembira membacanya.

Berulang kali kubaca suratmu. “Mas, jangan lupa untuk berkirim kabar kepadaku, karena aku merindukanmu,” bunyi surat tersebut, lalu kubaca lagi dalam bait yang lain,”Mas, kapan pulang, kasih kabar donk, biar aku gak menunggu-nunggu lagi….”.

Selesai membaca suratmu, aku lipat kembali surat tersebut dengan hati-hati dan kumasukkan kembali ke dalam amplopmu yang cantik dan menarik, karena ada gambar yang lucu-lucu disitu.

Aku sejenak termangu, bagaimana cara membalasmu, karena aku disini sibuk mengurus berbagai program kegiatanku yang masih belum jelas hasilnya. Akhirnya, kuputuskan untuk membalas menulis surat untukmu, agar beban pikiranku hilang. “Ah, kutulis saja surat balasan untukmu, sekarang. Aku lagi nganggur nich…”. Lalu kuambil secarik kertas hvs kosong di meja kegiatanku, lalu kutulis kata-kata yang indah dan menyejukkan, yang menceritakan mengenai program kegiatanku di sini, dan rencana pelaksanaannya, dan mohon didoakan, agar semuanya berjalan dengan baik dan lancar. “Doakan ya dik, mas disini baik-baik saja, dan semoga program kegiatan KKN ku dapat kujalani dengan lancar dan baik hasilnya. Salam termanis untukmu”.

Kututup kata terakhir dalam untaian kalimat penutupku kepadanya. Lalu kumasukkan ke dalam amplop putih yang banyak tersedia dimejaku. Lalu, aku meminjam sepeda motor temanku, untuk pergi ke kota Jepara, mengirimkan suratku tersebut. Temanku hanya mengangguk sambil menyerahkan kunci sepeda motornya dan tertawa cekikikan. Aku hanya tersenyum senang saja, karena motornya berhasil kupinjam.

Langit membiru, awan putih bersih berarak dengan rapi dan indahnya, membuat hatiku makin bergelora untuk segera mengirimkan surat itu ke kekasihku di Yogya, melalui kantor pos terdekat di kota Jepara.

Sesampainya di Kantor Pos Jepara, aku membeli perangko dan segera kumasukkan ke dalam bagian pengiriman surat, setelah sebelumnya, sempat kucium mesra surat tersebut. Beres. Lega hatiku. Segera aku bergegas pulang, takut kesiangan di jalan, karena program kegiatan KKN ku masih banyak yang belum terlaksana.

Kegiatan KKN ku berjalan dengan baik, sesuai rencana, meski kadangkala sedikit terhambat dengan datangnya musim penghujan, namun, akhirnya semua program kegiatanku berjalan dengan baik dan lancar, tidak ada yang tertunda. Aku senang sekali.

Akhirnya, program kegiatan KKN ku selesai, dan aku kembali pulang ke Yogya bersama kawan-kawanku satu tim, yang bertugas di Kabupaten Jepara.

Di Yogya, setelah aku membereskan barang-barang ku di rumah dan menaruhnya di dekat lemari pakaianku, aku langsung ke rumah kekasihku, di sana, kubawakan oleh-oleh untuknya.

Saat tiba di sana, sudah sore hari, dia baru saja menyapu halalamannya. Dia terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba tersebut, dan memang tidak kuberitahu kapan aku pulang dari KKN.

Dia nampak cerah dan berbinar-binar matanya. "Hai mas...! kapan pulangnya...?", tanyanya sambil menjabat tanganku. "Hari ini, tadi pagi...", sahutku sambil meremas erat telapak tangannya dengan erat-erat, tanda rindu yang bergejolak dan menderu. Dia pun tahu dan segera juga meremas tanganku dengan lembut. Matanya tersenyum padaku. Aku jadi tambah sayang padanya.

Segera dia bergegas ke dalam rumah, dan aku diminta menunggu di ruang tamunya. Bapak dan Ibunya amat baik dan ramah kepadaku, dianggap seperti anaknya sendiri, karena sudah lama kenal. Sambil menunggu, kulihat ruang tamunya yang tampak bersih, cantik, rapi dan indah, dengan pot bunga di lantai, serta vas bunga di meja tamu, juga tak ketinggalan, aneka lukisan dan foto keluarganya yang tersenyum padaku. Melambai padaku. Aku balas lambaiannya, juga senyum mereka.

Kekasihku datang dan membawakan makanan kecil yang mengundang selera untuk mencicipinya dan segelas teh manis. Aku segera mencicipinya, meski tanpa diminta olehnya. Dia hanya tertawa kecil saja, melihat polahku yang lucu dan menggemaskan.
aku memang kadang bertingkah manja didepannya dan dia pun sudah maklum tampaknya.

Lalu dia kuajak berbincang-bincang dan kuutarakan rasa rinduku padanya. Dia pun juga demikian. “Dik, aku rindu sekali denganmu. Aku amat merindukanmu. Ingin sekali mengajakmu jalan lagi, tapi kapan yach kau ada waktu…?”, kataku sambil menatap wajah dan senyumnya yang indah itu. “Aku juga demikian, mas…., merindukanmu. Lama mas ikut KKN, jadi aku kesepian. Memang banyak temanku yang kemari, menghiburku, membuat aku sedikit bisa melupakan kesepianku pada mas….”, katanya dengan polos sambil tersenyum manis padaku. Aku lalu menarik tangannya, dan kuelus lembut jemarinya. “Aku sayang pada dirimu, dik …”, kataku selanjutnya. Dia pun juga meremas tanganku dengan eratnya. “Aku juga mas, sayang padamu….”.

Akhirnya, sore itu aku pulang dengan hati yang berbunga, bermekaran, karena kekasihku amat sayang padaku, demikian juga, aku pun sayang padanya.

Hasil perbincangan tadi, besok pagi, dia mau kuajak jalan-jalan bersama, naik sepeda motorku, yang sudah butut, namun masih bisa diajak ngebut, meskipun pernah pula kalah dengan sepeda balap yang ngebut tak terkendali....... Aku hanya tertawa bila mengingatnya kembali….ha..ha…ha…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar