Sabtu, 21 November 2009

Cerpen : Hari yang terindah buatku...

Cerpen:
Oleh: Andin Adyaksantoro
andinadyaksantoro@ymail.com
http://pelangipelangiku.blogspot.com/

Saat kubertemu dengannya di Blok M, dekat Terminal bis, di Jakarta, aku nyaris melupakan wajahnya, yang pernah jadi temanku saat aku masih kuliah di Yogyakarta. Dia sekarang tampak lebih berisi dan lebih ceria serta lebih terawat di banding dulu, saat kost di Yogyakarta.

Kini, dia makin mendekati ke arahku, ke tempatku berada, di samping Toko Pakaian.

Dia Tersenyum dan tangannya melambai padaku, wajahnya ceria, berbeda dengan waktu dulu, yang pendiam dan sayu, serta kurus. Kini tampaknya dia sudah makin dewasa dan kepercayaan dirinya sudah meningkat tajam. Dia kembali melambaikan tangannya berulang kali kepadaku “Hai…hai…, mas….!”, teriaknya padaku. Aku hanya diam mematung, lalu kupaksakan tanganku untuk melambai, membalasnya.”Hai…, sini dik…!”, teriakku diantara bisingnya orang yang lalu lalang dan suara orang-orang yang menawarkan dagangannya melalui pengeras suara yang aduhai kerasnya.

Akhirnya, dia makin dekat ke arahku, dan aku kini berhadapan dengannya. “Hai…, mas….. Masih ingat denganku khan…?”, tanyanya. “Ya, dik. Namun, aku agak lupa. Mungkin sudah lebih dari sepuluh tahun ya kita tidak berjumpa. Sendirian atau dengan yang lainnya…?”, tanyaku sambil memandang kerumunan orang yang lalu lalang di sekitarku. “Sendirian lah mas…. Mosok dengan teman-teman…”, katanya setengah manja. “Mari kita jalan, mau kemana…? Makan atau belanja ke mana, terserah adik saja. Mas ngikuti aja…”, kataku dengan canggung sambil terus memandangnya, memandang wajahnya yang masih terlihat gurat-gurat kecantikannya, seperti dulu saat aku mengenalnya, dan saat berusaha merebut hatinya. Namun, kenangan ini justru membuat hatiku pernah terluka. Karena dulu, aku tak ada keberanian untuk mengutarakan isi hatiku yang terdalam, yang menginginkan dia jadi pacarku.

Waktu itu, aku sudah ke tempat kost-kostannya, namun, sewaktu main ke tempat itu, disitu sudah ada teman-temanku, juga temannya, yang sedang bersendau gurau dan tampaknya tidak terlalu memperhatikan diriku, atau pura-pura tidak memperhatikanku saja. Aku saat itu merasa teriris, cemburu dan segala macam pikiran tak sedap bergelayut di kepalaku.

Aku duduk di ruangan tamu kost-kostannya dan berusaha menenangkan hatiku untuk mengutarakan isi hatiku, namun, suasananya kurang mendukung. Saat itu, ketika dia pun akhirnya menoleh padaku, karena waktu itu dia sedang bercanda dengan teman-temanku, dia bertanya padaku, “halo mas. Apa kabarnya…, tumben datang kemari, biasanya sibuk …”. Aku semakin tertusuk hatiku, bagaimana tidak, aku dibilangin sibuk.

Memang saat itu, kegiatan ku banyak, ya ikut kegiatan mahasiswa, ikut nyambi-nyambi kerja cari uang tuk nambah uang jajan, ikut kegiatan teman yang suka main bola, dan lain sebagainya, sehingga aku memang tidak memperhatikan dirinya.

Lalu lamunanku buyar, saat dia bertanya padaku lagi, “mas, ngelamun yach…. Kalau ngelamun, tidak disini tempatnya…, di sono tuh, di rumah…”. Aku hanya cengar cengir saja.

”Aku kemari hanya ingin mengajakmu main ke luar rumah. Aku bawa kendaraan sepeda motor, kita pergi berdua saja. “, bujukku sambil menatap dirinya, yang nampak kaget dan gelisah. “Aku tak bisa, mas. Mas bisa lihat sendiri, itu teman mas ada disini, juga teman-temanku. Bagaimana mungkin aku meninggalkannya…? Maaf mas, aku tak bisa….”. Jawabannya membuat jantungku berhenti berdenyut. Aku beranikan diri lagi, “Tapi, mereka khan bisa menunggu sejenak?”, kataku tak mau kalah. “Iya, tapi, mas main disini aja khan juga bisa, nggak usah main keluar. Ramai-ramai canda disini aja. Bagaimana…?”, tanyanya. “Wah. Payah nich. Orang mau mengutarakan isi hati kog malah disuruh main dan canda dengan teman-temanku", pikirku putus asa.

Memang sekarang bukan saat yang tepat untuk main hati dengannya nich”, pikirku.
Melihat situasi yang tidak sesuai dengan harapanku tersebut, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan tempat kost-kostannya, pergi dan tak akan kembali lagi. “Baik, dik. Aku mau pulang saja. Aku mau permisi dulu. Ada yang perlu kukerjakan lagi”, kataku sambil siap-siap berdiri. Dia nampak kaget dengan sikapku yang lugas dan tegas tersebut. Aku memang orangnya pendiam, dingin dan tegas.

Sebenarnya hatiku juga kecewa dan terluka, namun bagaimana lagi, aku harus menerima kenyataan ini. Temanku yang melihat aku mau pulang, pada ngomong “Udah disini aja dulu, main di sini aja”, kata mereka sambil tersenyum dan canda ria. “Maaf, masih ada kerjaan di kampus.”jawabku sekenanya saja.

Setelah kejadian tersebut, aku tak pernah lagi main ke tempat kost-kostannya, sehingga aku melupakannya.

Sewaktu aku di wisuda, di Balairung, Yogyakarta, dia datang bersama teman-temanku, nampak senang dan gembira. Katanya mau nyelamatin dan lihat aku diwisuda serta nemenin aku wisuda. Aku jadi tersanjung. Namun, ketika kuajak foto bersama, mereka malah cengengesan dan mundur, tidak mau berfoto bersama. Aku jadi terluka lagi. “Ah ya sudah, dasar masih anak-anak.”, hiburku sendiri. Padahal mereka sudah kuliah semua pula.

Selesai foto bersama keluargaku, mereka kucari-cari, namun sudah tidak ada lagi. Kemana yach….?. Aku khawatir, mereka masih ada di sekitarku, namun, setelah lihat sana tengok sini, tidak nampak juga batang hidungnya, akhirnya aku bersama keluarga ku yaitu orang tuaku dan adikku, pulang ke rumah. Untuk melepas lelah.

******

Kini, dia ada didepanku, tersenyum padaku. aku seakan tak percaya dengan mata kepalaku sendiri. Dia juga memandangku, seakan juga tak percaya atas apa yang dilihatnya kini. Dia terus menatapku dengan penasaran. Aku juga ragu-ragu untuk menyentuh tangannya. Canggung. Ini seperti saat aku dulu berkenalan dengannya.

Akhirnya, kupaksakan diriku untuk menjabat tangannya, dan dia pun membalasnya. “Hai, selamat berjumpa lagi yach. Aku minta maaf, agak lupa. Sekarang mau kemana kita ?”, tanyaku untuk menutupi rasa canggungku. “Kita makan aja yuk, di Mall itu, makanannya enak dan tempatnya bersih serta enak untuk berbincang-bincang. “Aku setuju saja, aku nurut saja, apa yang kau pilih, dik.”, kataku sekenanya.

Lalu aku diajaknya memasuki Mall yang ada di sekitar tempat tersebut, di Blok M, tempat aku dulu sering jalan-jalan dengan temanku sewaktu aku bertugas di Jakarta, namun kini, aku sudah tidak di Jakarta lagi, di luar jawa, dan kebetulan sekarang dapat tugas lagi ke Jakarta selama 2 hari. Kesempatan ini kupakai untuk bertemu dengannya, dan dia pun juga setuju. Nostalgia teman di Yogyakarta.

Sewaktu sudah duduk di restoran tersebut, aku memesan makanan yang aku suka, dia pun juga begitu. Tak terlalu formal, dia pun mulai bercerita panjang lebar tentang kehidupan dirinya, yang sudah sukses kerja di suatu perusahaan yang besar dan bertaraf internasional. Aku salut dan bangga padanya. "Selamat ya..., semoga sukses slalu....", kataku sambil menjabat tangannya dengan erat, dia pun membalasnya dengan erat pula. Aku jadi tersenyum padanya, dia pun juga begitu, tersenyum padaku dengan pandangan yang bersinar dan membuat jantungku berdegup lebih kencang. Akhirnya, kulepaskan jabat eratnya, dan mengangkat gelasku sebagai tanda menghormati dirinya.

Apa yang diceritakannya dengan panjang lebar, aku hanya mendengarkannya saja. Sewaktu ditanya, aku hanya menjawab sekilas saja. “Ya…, tidak..., berulang-ulang..”. Aku suka mengamati wajah dan cara bicaranya yang menurutku, dulu aku belum menikmatinya secara jelas. Aku suka itu.

Aku jadi tambah semangat, seakan-akan aku menjadi muda lagi. Aku menjadi seperti seorang pemuda yang energik yang penuh vitalitas lagi, seperti sewaktu kuliah di Yogyakarta. Aku betul-betul menyenangi suasana saat ini, yang membahagiakan diriku.

Dia kadang memandangku, terus merona merah pipinya, malu, tersenyum padaku, kemudian menunduk, mengaduk-ngaduk isi gelasnya yang berisi jeruk hangat, lalu menengadah lagi, menatapku dengan matanya yang berbinar-binar. Aku terus memandangnya. Nampaknya dia pun bahagia bersama denganku saat ini, saat berjumpa denganku.

Kubiarkan mataku dan hatiku yang sedang berbunga-bunga ini untuk menatap wajahnya yang ayu dan cantik, yang dulu pernah aku taksir. Dia tahu, kalau aku terus memandang wajahnya. Dia pun, tersenyum padaku. Manizzzz sekaliii….

“Ah sudahlah. Aku mungkin sudah tidak akan bertemu dia lagi nanti, sekarang lah saatnya aku untuk menikmati waktu berduaan ini dengannya sepuasnya, memandang wajahnya dan mendengarkan suaranya yang merdu dan indah”,pikirku.

Aku saat ini, hanya bisa diam, memandangnya dan kadang juga, aku menunduk, malu dilihatin olehnya. Entahlah, kenapa aku diam saja, dimana biasanya, aku kalau kumpul dengan teman-teman ku yang lainnya, paling mendominasi pembicaraan, suka humor dan membuat tertawa teman-teman, sekarang nglumpruk…,lemes, tak berkutik dihadapan dirinya.

Aku tak mempedulikan orang-orang yang ada di sekitarku. Aku ingin saat–saat seperti ini, tidak cepat berlalu.

Makan siang pun, aku hanya makan sedikit saja, sekedar makan saja, dia pun juga begitu. Dia nampak puas dan bahagia bisa bertemu denganku, demikian pula diriku.
Tak banyak lagi yang perlu diceritakan, dan dibicarakan. Meski bibir tertutup, namun mata dan hati sudah saling berbicara panjang lebar.

Akhirnya, siang itu juga, setelah makan siang, di mall, kami pun berpisah. Masing-masing pulang membawa kenangan tersendiri di hatinya masing-masing. Aku dengan rasa bangga dan bahagia, dia pun kupikir demikian pula. Yach…, kenangan lama yang tak terlupakan, akhirnya, bisa bertemu jua.

Tangan-tangan Tuhan telah berbicara. Aku mensyukuri nikmat-Nya. Terima kasih Yaa Tuhan, Engkau telah mempertemukan kami, meski dalam nuansa yang berbeda, namun aku menyenangi hari ini, hari yang terindah buatku dan membuatku bahagia.

Kini aku tidak terluka lagi. Sembuh total. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar