Jumat, 04 Desember 2009

Cerpen : Hidup itu indah

Cerpen:
Oleh: Andin Adyaksantoro
andinadyaksantoro@ymail.com
http://pelangipelangiku.blogspot.com/

Andi, tertunduk lesu. Angannya untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi di Universitas di kotanya jadi terhambat, dan tak bisa dilanjutkan, karena orang tuanya tak mampu untuk membantu membiayai kuliahnya, meski Andi adalah lulusan terbaik di SMAnya.

Andi sudah memohon kepada orangtuanya, namun jawaban mereka hanya gelengan kepala saja, tanda pasrah dengan kedaaan ekonominya yang minim.

Andi mengerti dan sangat mengerti dengan keadaan ekonomi keluarganya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Andi sebagai anak tertua dari dua bersaudara dengan satu orang adik perempuannya, sudah merasakan bagaimana hidup dengan ekonomi yang pas-pasan, bahkan kadangkala, keluarganya hanya makan satu kali dalam sehari, karena ketiadaan beras di rumahnya.

Pernah Andi berbicara dari hati ke hati dengan orang tuanya, adanya keinginan darinya untuk tidak melanjutkan sekolahnya di SMA lagi, meski dia tahu, dia juara di kelasnya, namun karena keadaan ekonomi yang menghimpitnya, menyebabkan dia pasrah dan tidak rela, bila orang tuanya bekerja mati-matian hanya untuk membiayai sekolahnya di SMA dan sekolah adiknya yang bernama Dewi di SMP kelas III.

Justru keinginannya itu ditolak keras oleh kedua orangnya. Mereka bercucuran airmata mendengar permintaan Andi yang tidak ingin melanjutkan sekolah lagi. Mereka mengerti, bahwa ekonomi keluarga tidaklah sebanding dengan beban yang mereka pikul, namun mereka masih merasa mampu, masih kuat, kalau hanya membiayai sekolahnya Andi, meski harus mereka perjuangkan dengan sepenuh hati, asal anak mereka, Andi dan Dewi sekolah dengan baik dan benar, serta lulus pada waktunya.

Ayahnya hanya berkata,”Andi, kau sekarang sudah kelas III di SMA, sebentar lagi Ujian Nasional, jika kau tidak lulus, malah akan menambah beban orang tuamu yang sudah tua ini. Bapak dan ibumu hanya berharap, kau dapat menyelesaikan SMA mu dengan baik, namun bila telah selesai dan lulus, bapak dan ibu tidak bisa berharap banyak, apakah kau dapat melanjutkan kuliah atau tidak, karena bapak dan ibu tidak mempunyai biaya untuk itu.” Air mata bapak dan ibunya mengalir pelan tapi pasti, tersedu-sedu.

Andi dan adiknya, Dewi yang mendengar keluh kesah kedua orang tuanya, ikut menangis dan tak lama kemudian, Andi menyela,”Bapak, biarkan setelah lulus SMA, Andi akan membantu bapak dan ibu mencari uang dengan jalan Andi bekerja sambil kuliah,”kata Andi sampai tenggorokannya terasa tercekat, karena tak mampu lagi melanjutkan perkataannya. Dia merasa bersalah, karena tidak bisa membantu kedua orang tuanya.

Beberapa bulan kemudian, Andi lulus SMA dengan predikat lulusan terbaik, sedangkan adiknya, Dewi, juga lulus dari SMP meraih predikat lulusan terfavorit, yaitu lulusan yang banyak pengagumnya, karena cantik dan ayu, nilainya juga bagus-bagus, hanya tidak tertinggi saja.

Saat pendaftaran kuliah, Andi tidak mempunyai biaya, demikian pula orang tuanya. Biaya keluarganya hanya cukup untuk membiayai sekolah adik perempuannya, Dewi yang hendak melanjutkan sekolah di SMA di kotanya, seperti saat Andi masuk sekolah tersebut.

Andi berpikir keras, bagaimana agar dia bisa kuliah di Fakultas Ekonomi di kotanya. Dia membolak balik surat kabar di genggeman tangannya, mencari lowongan pekerjaan yang cocok untuk dirinya, namun, tak ada yang sesuai dengan kemampuannya.

Tiba-tiba dia teringat oleh perkataan temannya, si Joko, sesaat setelah perpisahan kelas di SMA dulu, “Andi, kuakui kau adalah teman dan sahabatku yang terbaik di kelas, di SMA ini, kau juga pintar dan cerdas, bahkan aku sering nyontek pekerjaan rumahmu, namun kau tidak marah, kau baik hati. Sebagai balasannya, apabila kau memerlukan uang atau biaya kuliahmu, silahkan datang ke tempatku, orang tuaku pasti akan membantumu, karena aku anak kesayangannya.”

Sesaat Andi terpaku di tempat, merenungkan arti kata-kata si Joko kemarin lusa tersebut. “Baik, kan kucoba menemui si Joko. Mudah-mudahan apa yang dikatakannya benar adanya.” Sesaat kemudian, Andi telah berlari mencari bis kota untuk ke rumahnya si Joko.

Rumah Joko amat megah dan besar. Wajar karena rumah orang kaya. Orangtuanya si Joko adalah Pengusaha sukses, ekport import baju. Setelah berbincang-bincang sejenak dengan penjaga rumahnya, akhirnya Andi dipersilahkan duduk di teras rumah Joko.

Tak lama kemudian, Joko keluar dari rumah dan menyapanya,”Hai, Andi, apa kabar. Maaf, tadi aku baru makan. Sudah makan belum?” “Sudah, Jok,”kata Andi sambil menyalami Joko. “Aku kesini ingin bertemu denganmu, membicarakan masalah rencana kuliahku, dimana aku terus terang gak punya uang untuk biaya itu”kata Andi sambil menatap wajah Joko penuh harap.

Tiba-tiba Joko tertawa nyaring dan lugas.”Tak usah khawatir Andi, asal kau bisa memenuhi syaratnya.” Mata Joko menatap Andi dengan senyum simpul. “Syarat yang bagaimana, Jok?” Tanya Andi penuh curiga.”Syaratnya, yaitu kau harus cepat selesai, tepat waktu, dan ngajari aku masalah komputer”, kata Joko dengan riangnya. “Hanya itu? Oke. Gak masalah. Aku senang sekali. Serius nich. Bisa enggak aku dapat biaya itu?” “Tenang, sobat. Pasti bisa. Aku yang akan bicara dengan ayahku.”kata Joko sambil masuk ke dalam rumah.

Tak berapa lama kemudian, Joko keluar bersama seorang tua, yang ternyata adalah ayahnya Joko. Orangnya masih muda, sehat dan tegap badannya, serta selalu tersenyum ramah.

“Oh. Ini nak Andi. Joko sudah cerita panjang lebar tentang keinginanmu kuliah. Ok. Bapak Bantu, tapi tolong Bantu Joko dalam hal komputer dan hal-hal yang dia tidak tahu, misalnya cari pacar…ha…ha..ha…’” seloroh bapaknya Joko. Andi hanya tersenyum simpul dan akhirnya ikut tertawa juga ha..ha...ha...

Intinya, Andi dapat bea siswa kuliah dari bapaknya Joko, yaitu pak Rudi, bea siswa cuma-cuma alias gratis lagi. Andi berterima kasih dan bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberi Karunia dan Anugrah kepada dirinya tanpa diduga sebelumnya melalui Joko dan bapaknya, pak Rudi.

Akhirnya, Andi dapat kuliah di Fakultas Ekonomi di kotanya dan selesai tepat waktu, dengan predikat cum laude, selanjutnya dia bekerja di tempatnya Joko sebagai akuntannya. Sedangkan Joko masih belum selesai di Fakultas Hukum, karena terlalu asyik pacaran dan terlena dalam kegiatan mahasiswanya.

Yach. Andi tak menyangka, kalau hidup itu ternyata indah dan mempesona, kalau mau dinikmati dengan rasa syukur dan berterima kasih kepada Sang Pencipta-Nya.

Adiknya, Dewi, juga sudah kuliah di Fakultas Ekonomi pula, di Universitas yang sama dengan kakaknya, Andi, dan dibiayai oleh Andi sendiri, setelah dia bekerja di tempatnya Joko sekeluarga.

Akhirnya, semuanya senang, tersenyum, tertawa dan bahagia.

Mentari bersinar dengan cerahnya, menyibak Pelangi yang berpantun sejuta warna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar