Rabu, 20 Januari 2010

Puisi: Senyummu menyadarkanku

Puisi: Senyummu menyadarkanku
Oleh: Andin Adyaksantoro
andinadyaksantoro@ymail.com
http://pelangipelangiku.blogspot.com/


Senyummu menyadarkanku kembali
dari rasa keterpurukan yang melanda jiwaku
yang merubah rasa sedihku menjadi ceria kembali
saat kau sajikan senyum terindahmu kepadaku

Saat kau marah kemarin ....kini rasa itu telah berlalu ...
saat kau melukai hatiku....kini telah menghilang ....
kini adalah saat yang terindah bagiku
saat kau membagi senyummu untuk ku yang mulai menggeliat tersipu

Kau sandarkan kata indah dalam kemesraanmu
yang melantunkan senandung rindu kepadaku
yang kemarin pernah hilang dari kharismamu
karena kau telah meninggalkanku ...pergi...

Kini kau merengkuhku kembali dalam pelukmu
erat dan hangat menyejukkan jiwaku
terasa kedamaian merayapi sendi kalbuku
membuatku tersadar bahwa kau masih disampingku

Kini senyumku kembali bergulir dalam terpaan sang Mentari pagi
yang merangkulku untuk bercanda tawa lagi
denganmu yang ada disampingku ...kini
dalam senyum mu yang cantik dan manis...
selembut bunga Melati di taman sang Bidadari....

Kini ....tiada lagi gundah di hati sang Pelangi
yang merasa tersendirikan dalam angan
yang dulu terasa terabaikan dalam rindu
kini telah hadir senyummu yang menyadarkanku
bahwa kau selalu ada di senyum terindahku....

Selasa, 19 Januari 2010

Puisi: Pelangi tersenyum indah kembali

Puisi : Pelangi tersenyum indah kembali
Oleh: Andin Adyaksantoro
andinadyaksantoro@ymail.com
http://pelangipelangiku.blogspot.com/


Sayup kudengar suaramu yang memanggilku....
terasa samar
lirih
namun jelas terdengar....

Kini suara itu makin jelas kudengar
terasa nyata dan terhampar
itu suaramu ....suara sahabat terdekatku
yang baik hati dan sering tersenyum manis padaku

Kau hadir kembali di hadapanku dengan bunga Melati di jemarimu
kau pandangi aku dengan senyum mu yang menggoda jiwaku
tersipu ....dan segera kau serahkan bunga itu di tanganku
aku terkesima dan merasa tersanjung....

Ternyata kita kembali bersahabat seperti dulu lagi
marahmu telah hilang
kesedihanmu telah punah
semuanya kembali berseri ....ceria lagi...

Awan hitam yang menggayut di pikiran ku perlahan sirna
tergantikan oleh cahaya mentari yang bersinar cemerlang
kemilau sang Pelangi telah berangsur berwarna warni lagi
menggapai asa yang tersampirkan dalam relung hatiku

Embun pagi kembali berlomba menapakkan kakinya di bumi
di rerumputan kering yang mulai menguning
yang terasa segar di dahan yang mulai beranjak usia
meniti pelan di antara ranting-ranting yang menghijau ....berserakan

Kini ...alam kembali bersemi
memancarkan cahaya keindahan yang semarak
lembut dan menyejukkan hati
memandang sang Pelangi yang tersenyum indah kembali....

Puisi: Selamat tinggal, Sahabatku yang terbaik

Puisi: Selamat tinggal, Sahabatku yang terbaik
Oleh: Andin Adyaksantoro
andinadyaksantoro@ymail.com
http://pelangipelangiku.blogspot.com/


Cahaya kemilau sang Surya telah pergi menjauh dariku
harum semerbaknya bunga Melati telah lama tak tercium lagi
Senandung irama suaramu telah lama tak terdengar lagi
aku hanya bisa pasrah menanti sang fajar kan terbit dengan ceria

Rasa rinduku kini telah tergapaikan oleh semilirnya sang bayu
tanpa rasa dan tanpa sentuhan lembut jemari lentikmu
yang membayang di rongga dadaku yang bergayut sendu
tanpa rasa keceriaan yang sering kudendangkan dalam puisiku

Malam ini telah berakhir sudah kisah bahagia kita
yang hanya bertahan dua kejap saja
yang tergelincir oleh kata semu
yang tak kan ternoda oleh nuansa kemilaunya sang Pelangi
yang dirundung kerinduan nada iramamu

Kau telah mengoyak hatiku yang tersungging senyum sendumu
kau telah membuatku terluka hingga tak bisa bangkit lagi
yang tak kan dapat menorehkan tarian penaku lagi di hatimu
meski kau sendiri pun terluka karenanya. ...

Mengapa persoalan kata majemuk harus kau pedulikan...
mengapa tiada yang mengalah dalam memutar kata indah
mengapa harus berakhir tanpa ujung dan tanpa tepi yang membias
memang pada akhirnya .....semuanya telah terjadi....
dan tak perlu ada yang menyesalinya....

Biarlah ini jadi pembelajaran bagi diriku dan dirimu
yang selalu ingin mencari eksistensi kemandirian
yang tak ada kata titik temunya
akhirnya ....dimana ada perjumpaan...disitu pasti ada perpisahan....
kita berpisah dalam suasana persahabatan yang terbaik...
tanpa pernah merasa terabaikan ....

Selamat tinggal, Sahabatku yang terbaik...

Puisi: Lilin ini telah padam

Puisi: Lilin ini telah padam
Oleh: Andin Adyaksantoro
andinadyaksantoro@ymail.com
http://pelangipelangiku.blogspot.com/


Lilin ini telah padam ....gelap
tak ada lagi cahaya yang bersinar
menerangi hati indahku yang memandangmu
terasa suram dan tak berpendar lagi

Tiada lagi cahaya kemilau sang Pelangi
tiada lagi harum semerbak bunga Melati
tiada lagi hati seindah rembulan di malam hari
dan tiada lagi kehangatan sinar sang surya di pagi hari

Semuanya telah padam ..
tanpa cahaya lagi...
kau dan aku telah memadamkannya
bersama-sama...pet....

Kerinduanku kini telah punah di telan sang waktu
tiada lagi kegembiraan dan keceriaan di rona wajahku
tiada lagi canda tawamu yang menggetarkan kalbuku
dan tiada lagi sentuhan lembut di getar relung hatiku

kau telah pergi dari ku
kau telah meninggalkan diriku dalam keterpanaan
dalam rasa terluka di berlian permataku
yang tak kan mungkin dapat kuhapus dalam sekejap

Biarlah kemarahanmu menghujat pilu rasa ini
biarlah kekecewaanmu merubah segala image mu padaku
biarlah rasa terlukamu kau sentuhkan di pelupuk jiwaku
namun aku kan tegar dalam penantian waktu yang membayang

Semua kan terjawab di kala sang Surya menitik airmatanya
semua kan kembali ceria saat sang Pelangi tersenyum kemilau
semua kan kembali pulih saat kau datang merengkuh hatiku
namun...apakah ini hanyalah khayalanku semata...?

Duri-duri tajam telah menerpa sangkaanmu yang berlebihan
roda pedati telah berputar melangkah perlahan
semua kan berubah seiring berjalannya waktu
siapakah yang benar dan siapakah yang tidak benar....
ketuklah pada dinding relung hati kita masing-masing....

Mengapa kemarahanmu amat menghentakkan dinding keningku
membuatku tergagap dan tak bisa menjawabmu
rasa tak percaya telah merubah keindahanmu
yang semula hatimu kudambakan selamanya....

Gemericik air terus mengalir perlahan namun pasti
menjauh pergi dan akhirnya menghilang
apakah rasa ini pun juga akan hilang dari rasa rinduku kepadamu
yang selama ini kemilau Pelangi telah mengaburkan pandanganku padamu...
yang kupuja dalam temaramnya lilin yang redup....
dan akhirnya padam ....tanpa cahaya lagi...

Senin, 18 Januari 2010

Puisi: Apakah aku tak boleh mengharapmu

Puisi: Apakah aku tak boleh mengharapmu
Oleh: Andin Adyaksantoro
andinadyaksantoro@ymail.com
http://pelangipelangiku.blogspot.com/


Kasih....
Apakah aku tak boleh mengharapmu
apakah aku tak boleh memandang dirimu
memandang matamu yang berbinar
mendengarkan canda tawamu yang bergelora di dada
dan mendengarkan ceritamu yang romantis....

Tangan ini ingin sekali meraihmu
menyentuhmu .....hingga terasa di relung hatiku
terasa bergetar saat kusebut nama indahmu
saat kau jawab pintaku yang merindukanmu

kau kadang hanya terdiam terpana
saat ku perdengarkan suaraku yang bergetar
saat ku bercerita tentang diri ku yang jauh dari mu
saat ku merindukan tatapan wajahmu yang sendu...

Jauh memang kita berpisah
tak ada waktu untuk mengejarmu yang disana
tak ada goresan pena yang mampu menghubungimu
kau ternyata jauh dari hatiku ....yang mengharapmu

kau selalu menghindar bila kutanya tentang 'kita...'
kau selalu berlari saat ku dekat disampingmu
namun....kau selalu kecewa ...saat ku jauh darimu
entah ada apa sebenarnya di dinding hatimu untuk ku....

Aku sudah mencoba membuka pintu hatimu
namun ...kau selalu menutupnya dengan lembut
aku sudah mencoba mendengarkan isi hatimu
namun ...saat kutorehkan namaku di relung hatimu...kau menolaknya...

Aku tak habis pikir .....bagaimana cara menghadapimu
bagaimana aku bisa merengkuh mu dalam dekapan eratku

aku sudah mencobanya....berkali-kali...
namun....daku tak berhasil meraih melati indah di taman hatimu....

Biarlah ...sang waktu yang kan menjawabnya...
biarlah semilir sang bayu yang kan menyentuhmu
untuk memanggil hati indahmu untuk ku
untuk mendampingimu ...selalu ....selamanya....

Puisi: Terasa Dingin

Puisi: Terasa Dingin
Oleh: Andin Adyaksantoro
andinadyaksantoro@ymail.com
http://pelangipelangiku.blogspot.com/


Terasa hawa dingin mulai menyelimuti diriku
makin dingin dan terus mulai membeku
membekukan hati yang terasa dingin
dalam terpaan sang bayu yang meninggalkan diriku

Kedinginan terasa makin merajuk
membelai dan merindukan diriku
menggapai dan merangkul hatiku
membuatku semakin kedinginan

Dingin hati
dingin jiwa
dingin pandangan
hingga dingin dalam merindukan dirimu

mengapa aku harus dingin padamu
karena kau lah yang membuat diriku jadi dingin
tanpa tanya
tanpa jawab
kau terus berlalu dari pandanganku

kau telah merubah diriku yang dulu segar
yang dulu ceria dan lincah
setelah bertemu dengan mu
berubah menjadi makin pendiam dan dingin
tidak seperti dulu lagi...

Kau telah membuat dirku merindukanmu
membutuhkan mu untuk selamanya
namun ....
dirimu selalu menghindar dariku
yang selalu memanggil namamu dalam bisik lembutku

entah mengapa kau permainkan hati indah ini
padahal aku teramat serius untuk mendengar jawabanmu
suka ....atau ....tidak suka
pilih kata indah yang terbaik darimu
aku terima semuanya... meski terasa menyayat di hati

Cobalah untuk mengerti diri ini
diri yang selalu mengejar kerinduanmu
diri yang selalu ceria di depanmu
diri yang selalu mendengarkan semua ceritamu
apakah diri ini tak pantas untuk bersanding denganmu

Angin malam telah mengguyurku untuk terus melangkah
berjalan dan berlari lari kecil tanpa arah
mengejar bayang-bayang indahmu yang tak pasti
menggapai angan dan khayal yang tak bertepi

semuanya kupasrahkan pada dirimu
pada hati indahmu yang kudamba...

apa pun yang akan kau lakukan kepada ku....
aku menunggumu...di sini... di hati yang merindumu...

Puisi: Malam beranjak pergi

Puisi: Malam beranjak pergi
Oleh: Andin Adyaksantoro
andinadyaksantoro@ymail.com
http://pelangipelangiku.blogspot.com/


Malam beranjak pergi ...perlahan
menyusuri bintang di langit yang berkelip
melewati warna jingga dan temaram yang menggapai
terasa sunyi dan hening.....

Bintang terus berkedip mengikuti irama dansa
memantulkan cahaya indah di hati
melantunkan kidung malam yang lirih
terasa angin membelai lembut diriku
menyentuhkan nada getar rindu padamu

Kutengadahkan roman wajahku ke atas
memandang kegelapan malam yang pekat
terasa begitu kecilnya diriku
di antara luasnya lautan alam di sekelilingku

Terasa kerinduanku tersekat di dada
menanti asa yang tergapaikan
tanpa dapat berlari secepat sang bayu
yang berlomba dengan sang waktu

Kubiarkan diri ini terlentang lelah
melepas kerinduan yang tak tersampirkan
kutatap sang rembulan nan terpaku diam
dalam keremangan cahaya bintang yang memanggil namaku

Mengapa kau tak pernah tahu isi hatiku
yang selalu memanggil namamu dalam kesunyian jiwa
dalam keterpanaan yang menggayut hati
entah sampai kapan kan ku bertahan

Tak terasa sudah 2 musim kulalui tanpamu
sendiri dalam kesendirian
tanpa lembaran kartu darimu
tanpa isyarat kerinduan dari sang Rembulan malam

Biarlah sang waktu yang kan membujukmu
agar kau mau menorehkan indahnya kata rindu
indahnya kata mesra di dinding hati ini
yang selalu mengharapmu ....kapan pun...