Jumat, 08 Januari 2010

Puisi: Kawan

Kawan....
dengarlah suara hati lirihku yang bersembunyi dalam dinding kaca terjalku
yang memanggil namamu dalam kelembutan yang membahana
yang merindukan suara burung Camar yang pedih dan lara
menyibak rasa asa yang terpinggirkan oleh cahaya sang Surya

Kawan....
mengapa kau marah padaku di saat aku merindukan belaian lembut jemarimu
di saat ku terpuruk dan luluh tak berdaya dalam genggaman rasa egoku yang labil
saat mendung menjelang, kau tinggalkan rasa asa yang terpendam luruh
mengais dalam keremangan lilin mungil yang pipih dan redup

Pelangi telah memancarkan sejuta warnanya tuk diriku yang pupus
yang tak kan bangkit tanpa bisik lembut semangat hidupmu yang bertalenta
mengibas kerinduan yang memancar bak air mancur dalam sejuta rasa indahmu
memeluk hangat sifat kelembutanmu yang tak kan pudar karena belaian rinduku

Gerimis hujan telah menyadarkan diriku tentang sentuhan lembut jemarimu yang lentik
yang mengangkat harkat hidupku tuk bermartabat dan terhormat serta santun
memandang dunia bagaikan Pelangi yang berwarna warni kemilaunya
tersentuh hati akan sikap dan pribadimu yang tegar dan lembut menawan

Kawan....
lupakan lah kenangan sang Mentari pagi yang mengikis habis energi sang Pelangi
yang memisahkan antara dirimu dan diriku dalam lingkaran pantai yang tak bertepi
tanpa ujung jawab dan tanpa muara tanya yang transparan dan terbalik
memaku janji dalam gontainya relung hati yang terpesona pada dirimu yang cantik hati ....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar